Wednesday, 12 March 2008

Making money atau looking for money?

Halo, kawan-kawan? Apa kabar? Lama tak berjumpa, kebetulan saya lagi banyak kerjaan. Sekarang saya ada sedikit waktu dan ingin menulis sedikit pula, yaitu tentang istilah making money atau looking for money?
Mana istilah yang benar? Yang jelas orang barat memakai istilah making money bukan looking for money. Apa ada perbedaan pengertian? Setelah saya renungkan, memang ada. Secara harafiah making money bukan berarti mecetak atau membuat uang palsu. Making money artinya membuat uang atau menciptakan uang melalui usaha atau bekerja. Making money mengesankan adanya usaha atau kerja aktif. Ini berbeda artingnya dengan 
looking for money, yang secara harafiah berarti mencari uang. Mencari uang juga mempunyai kesan kerja aktif dan bersungguh-sungguh. Hanya bedanya adalah bahwa making money mempunyai peluang memperoleh uang dalam jumlah yang besar karena membuat mengandung pengertian kerja lebih keras ketimbang sekedar mencari. Akibatnya, mencari uang kadang menghasilkan, kadang tidak menghasilkan uang atau menghasilkan tapi jumlahnya tidak memadai. Bukan berarti uangnya tidak ada, tetapi lebih disebabkan karena faktor-faktor lain, misalnya karena tidak tahu caranya atau ada faktor lain yang dalam bahasa agama disebut 
belum rezekinya.

Tapi, apakah karena kebetulan justru istilah mencari uang inilah yang biasa digunakan oleh bangsa kita?

Apakah karena kita pakai istilah mencari uang, maka kita berpenghasilan relatif lebih rendah ketimbang orang bule sana? Saya tidak tahu pasti, yang jelas bahasa memang menunjukkan bangsa!

Salam,

Ika

Wednesday, 13 February 2008

Bahasa menunjukkan Bangsa

Pada posting yang lalu saya sudah menyinggung sedikit mengenai karakteristik bangsa kita yang mudah menerima unsur budaya asing. Bukti-buktinya bisa kita lihat dari segala hal di sekitar kita baik yang terlihat, terasa, maupun yang tidak terlihat secara langsung. Bukti yang terlihat bisa kita saksikan dari benda-benda, bangunan-bangunan, maupun produk barang yang dihasilkan dan tampak hasilnya di sekitar kita. Lebih jelasnya lagi, lihat saja berbagai macam bangunan rumah, gedung perkantoran, pasar, stadion, pusat-pusat perbelanjaan, dan sebagainya yang semuanya merupakan percampuran dari berbagai unsur asing dan unsur asli budaya kita.
Demikian juga halnya dengan bahasa kita, yang merupakan rekaman dari perilaku kita sehari-hari yang menjadi kebiasaan yang terbentuk dalam waktu yang tidak sebentar. Inilah yang dimaksud dengan budaya itu, yaitu hasil dari perbuatan, kebiasaan, akal, usaha, yang khas dimiliki oleh kelompok masyarakat tertentu dan tidak dimiliki masyarakat yang lain.
Lalu benarkah bahasa kita mencerminkan budaya bangsa kita? Jelas, dong. Apa buktinya?
Banyak. Tapi sebelum saya sebutkan contohnya, saya akan sampaikan dulu bahwa bangsa-bangsa yang punya bahasa yang mirip atau berasal dari akar yang sama memiliki budaya yang mirip pula. Contohnya 
adalah bahasa Indonesia mirip dengan bahasa Malaysia dan kita lihat bahwa 
karakter bangsa kita mirip dengan mereka. 
Begitu juga dengan beberapa bangsa Eropa yang 
berasal dari rumpun bahasa yang sama memiliki 
kemiripan dalam perilaku maupun kebiasaan dan budaya.
Nah, yang mau saya sampaikan di sini sebenarnya adalah bahwa bahasa kita memang mencerminkan karakter kita, baik yang buruk maupun yang baik.
Saya ambil contoh yang ringan saja, misalnya istilah hak dan kewajiban. Apa yang aneh dengan istilah ini? Ini kan istilah yang biasa kita dengar sehari-hari? Baik, coba anda perhatikan kata mana dulu yang disebutkan? Anda benar! Hak dulu baru kewajiban. Justru di sinilah terlihat karakter bangsa kita: kita mendahulukan hak sebelum kewajiban! Padahal yang sebaiknya adalah kita harus mengedepankan kewajiban sebelum menuntut
hak atas kewajiban yang sudah kita laksanakan. Apakah anda sependapat dengan saya? Jadi seyogyanya istilah hak dan kewajiban diganti menjadi kewajiban dan hak.
Sebenarnya aneh juga, kenapa yang muncul (sering digunakan) adalah hak dan kewajiban? Apakah mengatakan hak dan kewajiban lebih mudah ketimbang kewajiban dan hak? Saya yakin hal ini bukan karena kemudahan pengucapan, melainkan karena secara tidak sadar (karena kebiasaan atau karakter bangsa kita) yang memang mendahulukan hak ketimbang kewajiban. Betulkah pendapat saya? Mungkin anda tidak sependapat.

Saya akan ambil contoh lain. Anda pernah dengar istilah take-and-give? Istilah ini sejajar dengan istilah fifty-fifty. Keduanya diambil dari bahasa Inggris. Tapi pernahkah anda coba cari istilah take-and-give di kamus-kamus? Saya jamin anda tidak akan pernah berhasil! Karena istilah itu memang tidak ada di kamus mana pun. Yang ada adalah give-and-take. Lha, apa bedanya? Ya jelas beda, dong! Take-and-give mendahulukan mengambil dari pada memberi, sedangkan give-and-take sebaliknya. Saya boleh mengambil kesimpulan bahwa orang Inggris selalu mendahulukan memberi ketimbang menerima, sedangkan kita mendahulukan mengambil daripada memberi. Inilah yang saya maksud bahwa bahasa menunjukkan bangsa!
Saya merasa heran, kenapa give-and-take bisa dipelesetkan menjadi take-and-give? Saya yakin, kalau orang Inggris atau mereka yang berbahasa Inggris mendengar istilah ini akan mengerutkan kening karena mereka tidak pernah mendengar istilah ini!
Jadi kalau anda bicara dengan mereka ini, berhati-hatilah untuk tidak mengatakan take-and-give tapi katakan give-and take. Jangan bikin malu bangsa kita, ya?

Kesimpulan saya, paling tidak ini kritik buat saya sendiri, kita memang mendahulukan hak ketimbang kewajiban dan lebih senang menerima daripada memberi!

Demikian dulu posting saya, semoga anda makin mengenal bangsa kita atau mengenal diri kita sendiri.

Salam,

Ika

Monday, 11 February 2008

Pengaruh Bahasa Asing terhadap Bahasa Kita

Mungkinkah bangsa kita termasuk bangsa yang terlalu mudah menyerap unsur-unsur budaya asing? Mungkin saja. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya khasanah atau kosa kata yang berasal dari bahasa asing. Interaksi budaya bisa terjadi pada semua bangsa atau peradaban karena sifat manusia memang saling membutuhkan. Lihat saja bahasa Inggris yang banyak mengambil kata-kata yang berasal dari bahasa Latin, Perancis, maupun Jerman. Demikian juga sebaliknya. Namun, tampaknya dalam hal penyerapan budaya (dalam hal ini bahasa asing) bangsa kita nomor satu. Bukti-bukti menunjukkan bahwa bahasa kita banyak mengambil dari berbagai bahasa lain seperti India (Hindu, Sansekerta misalnya maha, sila, caraka, dsb.), Cina (tahu, tauco, caysim), Jepang (harakiri untuk bunuh diri), Arab (sangat banyak untuk disebut satu persatu, nanti akan dibahas tersendiri), Persia (syah), Belanda (ledeng, rekening, korsleting), Portugal (kemeja), Inggris (sangat banyak), dan lain-lain, seiring dengan banyaknya bangsa yang pernah mengunjungi 
(dan menjajah) kita.
Anehnya, kita juga sering meminjam kata asing meskipun sudah memiliki kata yang memiliki arti yang sama. Apakah ini karena sifat bangsa kita yang suka gaya-gayaan, agar dianggap pandai atau banyak tahu? Coba saja simak misalnya kata kejam sering kali bergantian dengan 
kata sadis yang asalnya dari sadistic (Inggris).  
Atau misalnya usai atau selesai sering diganti dengan kelar yang berasal dari bahasa Belanda klaar atau clear (Inggris).
Betul kata pepatah bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Nanti saya akan bahas mengenai hal ini di posting yang akan datang.

Salam,

Ika

Thursday, 7 February 2008

(3) Syah atau sah?

Maksud saya mana yang benar: syah atau sah? Jawabnya tentu saja keduanya benar. Tapi mereka memiliki arti yang berbeda. Syah artinya secara umum adalah penguasa, raja atau yang dipertuan. Contoh Iskandar Syah, atau Shah Iran Reza Pahlevi (masih ingat?). Memang, menurut Dictionary.com. Online Etymology Dictionary. Douglas Harper, Historian. http://dictionary.reference.com/browse/shah (accessed: February 07, 2008): title of the king of Persia, 1564, shaw, from Pers. shah, shortened from O.Pers. xšayathiya "king," cognate with Skt. xšatra "dominion;" Gk. krasthai "to acquire, get," kektesthai "to possess." His wife is a shahbanu (from banu "lady"); his son is a shahzadah (from zadah "son"). Jadi secara umum dikenal bahwa shah asalnya dari gelar raja Iran. Nah, dalam bahasa kita penulisan shah ini berbunyi syah, dan dipakai sebagai gelar bagi para penguasa atau raja-raja di tanah air zaman dulu, seperti Iskandar Syah tadi.
Sementara itu, sah artinya benar secara hukum, alias valid atau legal. Sah berasal dari bahasa Arab shahih (terdiri dari huruf shad, ha, dan ta marbuthah) yang artinya benar secara hukum atau aturan.
Jadi ketika anda menggunakan kedua kata itu harus hati-hati, jangan sampai tertukar. Supaya tidak keliru saya akan memberi contoh kalimatnya:

1. Dokumen itu sah atau tidak?
2. Anak itu anak sah dari perkawinan Kakang dan Nyai.
3. Syahbandar adalah sebutan bagi penguasa atau kepala pengatur administrasi pelabuhan.

Nah, sekian dulu. Kalau ada pertanyaan atau komentar, dengan senang hati saya akan menjawab atau menerimanya.

Salam,

Ika

Tuesday, 5 February 2008

(2) Saya

Setelah kata anda, penulis ingin memberi ulasan tentang kata saya. Saya erat kaitannya dengan kata sahaya yang berarti hamba, budak, atau pelayan (Inggris: slave, servant). Dalam cerita-cerita lama sering kita jumpai dialog antara raja dan bawahannya, misalnya ponggawa, atau rakyat jelata, sebagai berikut:

Raja: ”Bukankah sudah aku perintahkan kamu agar kamu menyembahku?”
Ponggawa: ”Saya, Paduka Yang Mulia”.

Saya yang terakhir ini artinya ya. Tapi kadang juga jawabannya sebagai berikut:
Ponggawa: ”Hamba, Paduka Yang Mulia”.

Dari uraian ini terlihat bahwa kata saya memberi kesan menempatkan diri si pembicara sebagai bawahan atau mempunyai kedudukan yang lebih rendah dari lawan bicaranya. Dalam praktek kita sehari-hari ternyata kesan ini sudah tidak terasa lagi. Meskipun demikian, orang sering menggunakan kata saya ketika baru berkenalan atau memberi kesan formal. Namun, tidak jarang pula ketika orang sedang marah juga menggunakan kata saya, misalnya:
”Tadi ’kan saya sudah bilang, kamu jangan melanggar perintah lagi!”, yang memberi kesan si pembicara berada pada posisi lebih tinggi.
Sebagai padanan kata saya, orang sering memakai kata aku. Dewasa ini kata aku sudah lebih sering digunakan dalam pembicaraan informal. Lihat contohnya di sinetron-sinetron, terutama yang menyangkut kalangan muda-mudi. Menurut pengalaman penulis, kata aku jarang digunakan dalam pergaulan sehari-hari pada tahun 70-an, meskipun aku sudah ada sejak jaman sebelum republik ini berdiri.
Kalau kita lihat asal-usulnya, kata aku memang ada dalam bahasa daerah di Jawa maupun Sumatera. Sementara itu, di daerah Jawa Barat digunakan kata abdi (yang juga bersifat merendah) dan kuring atau sim kuring (sengaja suku kata ku ditulis miring) sebagai padanan kata saya. Dan di daerah Maluku, orang menggunakan beta, dan kadang digunakan juga oleh orang selain mereka di dalam situasi tertentu, misalnya dalam acara lawakan.
Adakah kata lain sebagai padana kata saya? Penulis yakin ada di dalam bahasa daerah lainnya, namun kurang kita kenal.
Eh, ternyata panjang juga ya cerita tentang saya ini?

Salam,
Ika

Monday, 4 February 2008

1. Anda

Sebagai posting pertama, saya ambil kata anda. Seingat saya, ketika SD dulu saya pernah membaca di buku pelajaran Bahasa Indonesia, kata anda asalnya dari usulan salah seorang peminat bahasa sebagai padanan kata you dalam bahasa Inggris. Sebelumnya, kita biasa menggunakan saudara atau bung di jaman perjuangan kemerdekaan dulu. Saudara sendiri asalnya dari bahasa Sanskrit sa artinya satu dan udara artinya perut. Jadi pemakaian kata saudara untuk padanan you  kurang tepat. Maka ada yang usul kata anda. Kata ini asalnya dari kata anta bahasa Arab yang artinya, ya, anda (sebutan untuk orang kedua pria tunggal). Tapi itu untuk sebutan pria, sedangkan sebutan untuk wanita bahasa Arabnya adalah anti. Lalu kenapa kita tidak memanggil dengan sebutan andi untuk wanita? Entahlah. Yang jelas andi adalah sebutan atau gelar terhormat di salah satu suku di Sulawesi.
Untuk sebutan orang kedua jamak, bahasa Arabnya adalah antum. Apa kita tidak sebaiknya menggunakan kata andum saja untuk pengganti kata anda sekalian?

Nah, sekian dulu, sambil menunggu komentar andum! :-)

Salam,

Ika